METABOLIT SEKUNDER PADA TANAMAN DAN FUNGSINYA

A.    Sereh Wangi
Menurut  Santoso  (1992),  klasifikasi  dari  tanaman  sereh  wangi  (Cymbopogon
nardus) sebagai berikut:

Devisio      :  Spermatophyta
Klas           :  Angiospermae
Subklas      :  Monocotyledonae
Ordo          :  Graminales
Famili         :  Graminae
Subfamili   :  Panicoidae
Genus         :  Cymbopogon
Species       :  Cymbopogon nardus

Sereh wangi diduga berasal dari Srilangka. Nama latinnya adalah Cymbopogon nardus L., termasuk dalam suku  Poaceae (rumput-rumputan). Varietas sereh wangi yang paling dikenal adalah varitas Mahapengiri (java citronella oil) dan varitas Lenabatu (cylon citronella oil). Tanaman sereh wangi yang diusahakan di Indonesia terdiri dari 2 jenis yaitu lemabatu dan mahpengiri. Jenis mahapengiri mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: daunnya lebih luas dan pendek, disamping itu menghasilkan minyak dengan kadar sitronella dan geraniol yang tinggi. Sedangkan jenis lenabatu menghasilkan dengan kadar sitronellal dan genariol yang lebih rendah. Pada dasarnya tanman sereh wangi dapat tumbuh dimana-mana, mulai dataran rendah (100 m) sampai ketinggian 1000 m. akan tetapi sereh wangi berproduksi baik berketinggian optimum sekitar 180-250 meter diatas permukaan laut (santoso, 1992). Sereh wangi dapat tumbuh pada tanah yang memiliki pH 6-7, jika pH dibawah itu tanaman akan kerdil. Suhu yang cocok untuk tanaman ini adalah sekitar 180-250 C,

      1.      Metabolit Sekunder pada Tanaman Sereh Wangi dan Fungsinya


Metabolit sekunder atau alelokimia merupakan senyawa pertahanan tumbuhan yang dihasilakan dari jaringan tumbuhan dan dapat besifat toksik. Senyawa ini dapat menurunkan kemampuan nyamuk dalam mencerna makanan, yang termasuk dalam metabolit sekunder antara lain tannin, saponin, terpenoid, alkaloid, dan flavonoid Ishaaya, 1986; Howe dan Westley, 1988 dikutip oleh Elena, 2006). Produk metabolit sekunder bagi tumbuhan berperan dalam hal berinteraksi atau berkompetisi, termasuk untuk melindungi diri dari gangguan luar seperti nyamuk atau hama. Sereh wangi (Cymbopogon nardus) mempunyai metabolit sekunder antara lain saponin, tanin, kuinon, dan steroid (Departemen Kesehatan, 2006). Minyak atsiri mengandung berbagai senyawa kimia alamiah yaitu senyawa sitral, sitronela, geraniol, mirsena, nerol, farsenol methil heptenono, dan dipentena. Sementara dua senyawa yang penting yaitu geraniol dan sitronela. 
Fungsi metabolit sekunder pada tanaman sereh wangi antara lain :
a.       Saponin.
Saponin adalah suatu glikosida yang mungkin ada pada banyak macam tanaman. Fungsi dalam tumbuh-tumbuhan antara lain sebagai bentuk penyimpanan karbohidrat, dan merupakan waste product dari metabolisme tumbuh-tumbuhan. Kemungkinan lain adalah sebagai pelindung terhadap serangan serangga.
Sifat-sifat Saponin adalah:
1) Mempunyai rasa pahit
2) Dalam larutan air membentuk busa yang stabil
3) Menghemolisa eritrosit
4) Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi
5) Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksisteroid lainnya
6) Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi
7) Berat molekul relatif tinggi, dan analisis hanya menghasilkan formula empiris yang mendekati.
Berdasarkan atas sifat kimiawinya, saponin dapat dibagi dalam dua kelompok:
1) Steroids dengan 27 C atom.
2) Triterpenoids, dengan 30 C atom.
Saponin bersama-sama dengan substansi sekunder tumbuhan lain berperan sebagai pertahanan diri dari serangan insekta atau nyamuk karena nyamuk yang mengkonsumsi saponin akan menurunkan enzim pencernaan dan penyerapan makanan. Smith dikutip oleh Nursal dan Siregar (2005) dikutip oleh Elena (2006) menyatakan bahwa alkaloid, terpenoid, dan flavonoid merupakan senyawa pertahanan tumbuhan yang dapat menghambat makan nyamuk dan juga bersifat toksik.
b.      Tanin
Tanin terdapat berbagai tumbuhan berkayu dan herba, berperan sebagai pertahanan dengan cara mengahalangi insekta nyamuk dalam mencerna makanan. Nyamuk yang memakan bagian tubuh tumbuhan dengan kandungan tanin yang tinggi akan memperoleh sedikit makanan yang bermanfaat bagi kehidupanya, akibatnya terjadi penuruna pertumbuhan.
c.       Kuinon
Kuinon merupakan salah satu jenis senyawa fenolik. Senyawa fenol biasanya terdapat dalam berbagai jenis sayuran, buah-buahan dan tanaman. Senyawa antrakuinon dan kuinon mempunyai kemampuan sebagai anti biotik dan penghilang rasa sakit serta merangsang pertumbuhan sel baru pada kulit (Kristiana, 2008).
d.      Steroid
Steriod merupakan senyawa saponin dengan 27 atom C. Steroid saponin dihidrolisis menghasilkan suatu aglikon yang dikenal sebagai saraponin. Hampir sama sama seperti saponin steroid juga bersifat toksik, dan memiliki efek anti jamur.
Manfaat steroid bagi tumbuhan antara lain :
1)      meningkatkan laju perpanjangan sel tumbuhan
2)      menghambat penuaan daun (senescence)
3)      mengakibatkan lengkuk pada daun rumput-rumputan
4)      menghambat proses gugurnya daun
5)      menghambat pertumbuhan akar tumbuhan
6)      meningkatkan resistensi pucuk tumbuhan kepada stress lingkungan
7)      menstimulasi perpanjangan sel di pucuk tumbuhan
8)      merangsang pertumbuhan pucuk tumbuhan
9)      merangsang diferensiasi xylem tumbuhan
10)  menghambat pertumbuhan pucuk pada saat kahat udara dan endogenus karbohidrat.
Dahulu, sterol terutama dianggap sebagai senyawa satwa (sebagai hormone kelamin, asam empedu, dan lainnya), tetapi pada tahun-tahun terakhir ini makin banyak sterol yang ditemukan dalam jaringan tanaman (fitosterol). Sterol dapat menutup situs absorbs kolesterol dalam usus manusia sehingga dapat membantu mengurangi kadar kolesterol dalam usus manusia sehingga dapat membantu mengurangi kadar kolesterol dalam tubuh sebanyak 15%.
e.       Minyak Atsiri, atau dikenal juga sebagai Minyak Eteris (Aetheric Oil), Minyak Esensial, Minyak Terbang, serta Minyak Aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Sebagian besar minyak Atsiri termasuk dalam golongan senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak/lipofil. Terpenoid merupakan senyawa kimia tanaman yang cukup penting, jenis terpenoid yang penting adalah pyretroid dan azadiractin (triterpenoid) yang bersifat toksik (Tusifah, 2007)
Minyak Atsiri merupakan metabolit sekunder yang biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan tumbuhan lain (lihat alelopati) dalam mempertahankan ruang hidup. Walaupun hewan kadang-kadang juga mengeluarkan bau-bauan (seperti kesturi dari beberapa musang atau cairan yang berbau menyengat dari beberapa kepik), zat-zat itu tidak digolongkan sebagai Minyak Atsiri.
Kandungan terbesar minyak atsiri pada tanaman sereh wangi adalah sitronela sebesar 30 % dan geraniol sebesar 35-40 % (Enjcorp, 2007). Sitronela mempunyai sifat racun (desiscant), menurut cara kerjanya racun ini seperti racun kontak yang dapat memberikan kematian karena kehilangan cairan secara terus-menerus sehingga tubuh serangga seperti nyamuk akan kekurangan cairan. Umumnya sitronela dan geraniol digunakan untuk bahan dasar pembuatan ester-ester seperti hidroksi sitronela, geraniol asetat dan methanol sintetik yang mempunyai sifat lebih stabil dan banayk digunakan dalam industry wangi-wangian. Hidroksi sitronela penting untuk sabun dan minyak wangi, manakala methanol untuk bahan dasar obat batuk, obat gigi, dan obat pencuci mulut. Minyak atsiri juga berfungsi sebagai pembunuh hama karena memiliki sifat toksisk.
Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa tanaman sereh wangi memiliki banyak manfaat antara lain sebagai pengendali organisme pengganggu tanaman, misalnya sebagai insektisida, fungisida, bakterisida atau repelen (penghalau), dapat pula digunakan sebagai minyak urut untuk mengatasi kembung perut, masuk angin, kram usus dan diare, dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi system saraf karena minyak serai dapur yang dioleskan kepermukaan tubuh memberikan efek menghangatkan, melemaskan otot, dan meredakan kejang. Pada tahun 2006, sebuah tim peneliti dari University Gurion di Israel menemukan senyawa dalam tubuh serai yang bisa mematikan sel kanker tanpa merusak sel sehat.
B.     Tanaman Anting-Anting
Anting-anting merupakan tumbuhan perdu semusim, tumbuh tegak dan berambut, tinggi 30-50 cm. Batangnya bercabang dengan garis memanjang kasar. Letak daun berseling, bentuk bulat telur sampai lonjong, pangkal  lancip,  tepi bergerigi, panjang daun 2,5-8 cm, lebar daun 1,5-3,5 cm. bunga keluar dari ketiak daun,  berupa bunga majemuk, kecil-kecil, tersusun dalam rangkai malai bentuknya mengerucut seperti anting-anting hingga disebut tumbuhan antimg-anting. Dalam satu tangkai terdiri dari  sehingga disebut tumbuhan kucing-kucingan. Tumbuhan ini tumbuh liar di pinggir jalan, lapangan rumput, lereng gunung dan sebagainya. Anting-anting disebagian daerah di Indonesia memiliki warna yang berbeda-beda, misalnya sumatra disebut ceka mas, di Jawa disebut rumput bolong-bolong, telantang atau rumput kekosongan dan kucing-kucingan (Wijayakusuma, 2006).
Klasifikasi tanaman Anting-anting adalah sebagai berikut (Kartesz dalam Halimah, 200):

Kerajaan                : Plantae
Subkerajaan           : Tracheobionta
Divisi                     : Magnoliophyta
Kelas                     : Magnoliopsida
Subkelas                : Rosidae
Bangsa                  : Euphorbiales
Suku                      : Euphorbiaceae
Marga                    : Acalypha L.
Jenis                      : Achalypha indica L.

      1.      Metabolit Sekunder Pada Tanaman Anting-anting dan Fungsinya
Wijayakusuma (2006) menyebutkan bahwa keberadaan tanaman anting-anting ini sangat melimpah, dan masyarakat lebih mengenalnya sebagai anaman liar yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman pertaniannya. Tanaman anting-anting (Acalypha indica L.) sebagai salahsatu tanaman obat yang dapat tumbuh dipinggir jalan, lapangan rumput, dan lereng gunung. Masyarakat  sering  menggunakan  tanaman  anting-anting  sebagai tanaman untuk menyembuhkan penyakit disentri basiler dan disentriamuba, diare, mal nutrisi, mimisan, muntah darah, buang air besar berdarah, malaria (Arisandi., 2008). Kartika (2004) menyebutkan bahwa tanaman anting-anting mengandung saponin, tanin, flavonoid, acalyphine, dan minyak atsiri. Wijaya kusuma (2006) menyebutkan bahwa tanaman anting-anting mengandung alkaloid, acalyphine, dan asam galat. Fungsi metabolit sekunder pada tanaman anting-anting adalah :
a.       Saponin
Saponin berasal dari bahasa latin yang memiliki arti sabun. Saponin merupakan senyawa aktif bersifat emulgator yang dapat membuat emulsi. Jika dikocok dalam air dapat menimbulkan busa dan pada konsentrasi rendah dapat menyebabkan hemolisis sel darah merah. Saponin bersama-sama dengan substansi sekunder tumbuhan lain berperan sebagai pertahanan diri dari serangan insekta atau nyamuk karena nyamuk yang mengkonsumsi saponin akan menurunkan enzim pencernaan dan penyerapan makanan. Smith dikutip oleh Nursal dan Siregar (2005) dikutip oleh Elena (2006) menyatakan bahwa alkaloid, terpenoid, dan flavonoid merupakan senyawa pertahanan tumbuhan yang dapat menghambat makan nyamuk dan juga bersifat toksik.
b.      Tanin   
Merupakan komponen polifenol yang mampu mempu mengikat dan mempresipitasi protein. Tanin terdiri dari molekul oligometrik yang memiliki fenol bebas didalamnya, larut dalam air, serta mamapu mengikat protein. Tanin memiliki efek anti diare hemostatik (menghentikan pendarahan), dan antiinflamasi.
c.       Flavonoid
Senyawa flavonoid yang terdapat dalam tanaman anting-anting belum diketahui jenis golongannya secara spesifik. Senyawa flavonoid adalah senyawa yang mengandung C15 terdiri atas dua inti fenolat yang dihubungkan dengan tiga satuan karbon (Sastrohamidjojo, 1996). Flavonoid merupakan komponen biiaktif pada makanan khususnya sebagai antioksidan.  Flavonoid   terdapat   pada   daun,   bunga,   buah,   biji-bijian,   bulir padi, rempah, dan pada tumbuhan berkasiat obat. Peran terpenting flavonoid dari sayuran dan buah segar adalah mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan stroke (Safitri, 2004). Tumbuhan yang mengandung senyawa flavonoid  dapat digunakan untuk anti kanker, anti oksidan, anti flamasi, inti alergi, anti hipertensi (Fauziah, 2010).
Flavonoid merupakan senyawa bahan alam dari golongan senyawa fenolik yang banyak merupakan pigmen tumbuhan. Fungsi kebanyakan  flavonoid  dalam  tubuh  kita  adalah sebagai antioksidan. Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang berfungsi sebagai antimikroba dan antivirus (Robinson, 1995). Alkaloid merupakan senyawa yang mengandung nitrogen dan berperan dalam penolak serangga dan antifungi, sedangkan terpenoid merupakan metabolit sekunder yang dapat berfungsi sebagai fungisida, racun terhadap hewan tingkat tinggi dan penolak serangan serangga (Robinson, 1995). Selain itu flavonoid juga bermanfaat untuk melindungi sel, memiliki hubungan sinergis dengan vitamin C (meningkatkan efektivitas vitamin C), antiinflamasi, mencegah, keropos tulang dan sebagai antibiotic. Dalam banyak kasus flavonoid dapat berperan secara langsung sebagai antibiotic dengan mengganggu fungsi dari mikroorgansme seperti bakteri atau virus. Fungsi flavonoid sebagai anti virus telah banyak dipublikasikan, termasuk untuk virus HIV dan virus herpes. Flavonoid juga dilaporkan berperan dalam mencegah dan mengobati beberapa penyakit antara lain seperti asma, katarak, diabetes, encok/rematik, migren, wasir, dan periodontitis (radang jaringan ikat penyangga akar gigi).
d.      Acalyphine
Acalyphine termasuk kedalam senyawa alkaloid yang memiliki fungsi sebagai pengatur tumbuh atau penghalau dan penarik serangga (Harborne, 1987). Smith dikutip oleh Nursal dan Siregar (2005) dikutip oleh Elena (2006) menyatakan bahwa alkaloid, terpenoid, dan flavonoid merupakan senyawa pertahanan
e.       Minyak atsiri
Minyak atsiri merupakan minyak yang mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, sehingga berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, dan mempunyai rasa getir. Pada tanaman, minyak atsiri mempunyai 3 fungsi yaitu : membantu proses penyerbukan dengan menarik beberapa jenis serangga atau hewan, mencegah kerusakan tanaman oleh serangga, dan sebagai makanan cadangan bagi tanaman.  Minyak atsiri biasanya berperan sebagai pertahanan diri tanaman agar tidak dimakan oleh hewan (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan tanaman lain dalam mempertahankan hidupnya.
f.       Alkaloid
Alkaloid merupakan metabolit sekunder terbesar yang banyak ditemukan pada tumbuhan tingkat tinggi dan mempunyai susunan basa nitrogen, yaitu satu atau 2 atom nitrogen (Harborne, 1987; Bhat et al., 2009). Alkaloid sering beracun bagi manusia dan mempunyai efek fisiologis yang menonjol, sehingga sering digunakan untuk pengobatan (Harborne, 1987). Alkaloid dibentuk berdasarkan prinsip pembentukan campuran dan terbagi menjadi 3 bagian, yaitu elemen yang mengandung N terlibat pada pembentukan alkaloid, elemen tanpa N yang ditemukan dalam molekul alkaloid dan reaksi yang terjadi untuk pengikatan khas elemen-elemen pada alkaloid (Sirait, 2007). Alkaloid tidak mempunyai tata nama sistematik, oleh karena itu, suatu alkaloid dinyatakan dengan nama trivial yang berakhiran -in (Lenny, 2006). Fungsi alkaloid dalam tumbuhan belum diketahui secara pasti. Namun alkaloid berfungsi sebagai pengatur tumbuh atau penghalau dan penarik serangga (Harborne, 1987).
g.      Asam Galat
Asam galat banyak terdapat pada tumbuhan berkayu yang terikat galotanin dan merupakan suatu golongan senyawa yang sangat bioaktif. Galotanin bertindak sebagai senyawa alelopati, menghambat pertumbuhan spesies lain yang tumbuh di sekitar tumbuhan yang mengandung dan melepaskan galotanin. Tanin lainnya tersebar luas di dalam tumbuhan dibandingkan galotanin dan fungsi utamanya adalah melindungi tumbuhan terhadap serangan bakteri dan fungi.
Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa tanaman anting-anting memiliki banyak khasiat antara lain sebagai obat antiradang, antibiotik, peluruh kencing (diuretik), pencahar, penghenti pendarahan. Selain itu, Acalypha indica Linn. Juga untuk pengobatan disentri basiler, disentri amuba, diare, anak dengan berat badan rendah (malnutrisi), gangguan pencernaan makanan (dispepsi), perdarahan seperti mimisan (epistaksis), muntah darah (hematemesis), berak darah (melena), kencing darah (hematuria), malaria, susah buang air besar, penurun glukosa darah. Akarnya digunakan untuk penurun asam urat.


DAFTAR PUSTAKA

Ratnaningtyas, Dwi. 2008. Uji Toksisitas Akut Ekstrak Daun dan Batang Sereh Wangi    Sebagai Pestisida Botani Pembasmi Nyamuk Aedes Aegypti, (On Line), (http://library.ikippgrismg.ac.id/docfiles/fulltext/Dwi_Ratna_Ningtyas-6-SAIP.pdf ,  diakses 11 April 2014)
Sianturi, Eva septiana. 2009. Uji Beberapa Efektivitas Insektisida Nabati pada Tanaman Kacang Hijau dan Kacang Panjang Terhadap Hama Maruca testulalis Geyer, (On Line), (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7730/1/09E02781.pdf, diakses 12 April 2014)
Stefanus, Grace. 2009. Efek Neuroterapi Ekstrak Akar Acalypha Indica  Linn. Secara Ex Vivo, (On Line), (http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/122731-S09022-Efek%20neuroterapi-Literatur.pdf, diakses pada 13 April 2014)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKANAN DARAH

METODE PEMISAHAN CAMPURAN

BAGAIMANA PROSES TERBENTUKNYA UBAN ?