BAHAN PENGEMULSI PADA MAKANAN SEHARI-HARI
A. CARBOXYMETHYL CELLULOSE (CMC)
Perkembangan gaya hidup
masyarakat membuat produk pangan saat ini dituntut tidak hanya memenuhi
kuantitas yang dibutuhkan, namun juga memenuhi kualitas yang diinginkan
konsumen. Guna meningkatkan kualitas ini, berbagai zat aditif ditambahkan dalam
proses produksi. Salah satu zat aditif yang lazim digunakan adalah
karboksimetil selulosa, yang juga dikenal sebagai CMC (carboxymethyl
cellulose. Karboksimetil selulosa merupakan merupakan eter polimer selulosa
linear dan berupa senyawa anion, yang bersifat biodegradable, tidak
berwarna, tidak berbau, tidak beracun, butiran atau bubuk yang larut dalam air
namun tidak larut dalam larutan organik, memiliki rentang pH sebesar 6.5 sampai
8.0, stabil pada rentang pH 2 – 10, bereaksi dengan garam logam berat membentuk
film yang tidak larut dalam air, transparan, serta tidak bereaksi dengan
senyawa organik (Deviwings, 2008). Karboksimetil selulosa berasal dari
selulosa kayu dan kapas yang diperoleh dari reaksi antara selulosa dengan asam
monokloroasetat, dengan katalis berupa senyawa alkali.
Carboxymethylcellulose (CMC) adalah eter asam karboksilat turunan
selulosa yang berwarna putih, tidak berbau, padat, digunakan sebagai bahan
penstabil (Fennema, 1996). Carboxymethylcellulose (CMC) dibuat
dari reaksi sederhana yaitu pulp kayu ditambah dengan NaOH kemudian direaksikan
dengan Na monokhlor asetat atau dengan asam monoklor asetat (Tranggono, 1990).
CMC biasanya digunakan sebagai bahan penstabil pada produk susu seperti yogurt.
Hal ini disebabkan kemampuan CMC untuk membentuk larutan kompleks dan berguna
mencegah terjadinya pemisahan whey atau sineresis dan mampu meningkatkan
viskositas (Imeson, 1992). Selain mempunyai manfaat, emulsifier seperti
CMC dapt menimbulkan dampak negatif. Dalam jangka panjang jika tidak digunakan
sesuai dosis yang diizinkan, pemakaian emulsifier dapat menyebabkan
penyakit kanker atau kerusakan ginjal. CMC juga memiliki efek obat usus
(pencahar).
Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat
dan Makanan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2013 Tentang Batas Maksimum
Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Peningkat Volume pada Bab III, Methyl
Cellulose termasuk bahan tambahan jenis BTP peningkat volume yang diizinkan
digunakan dalam pangan. Penggunaan CMC di Indonesia sebagai bahan penstabil, pengental, pengembang,
pengemulsi dan pembentuk gel dalam produk pangan khususnya sejenis sirup yang
diijinkan oleh Menteri Kesehatan RI, diatur menurut PP. No. 235/ MENKES/ PER/
VI/ 1979 adalah 1-2%.
Karboksimetil selulosa secara luas
digunakan dalam bidang pangan, kimia, perminyakan, pembuatan kertas, tekstil,
serta bangunan. Khusus di bidang pangan, karboksimetil selulosa dimanfaatkan
sebagai stabilizer, thickener, adhesive, dan emulsifier karena dapat
memperbaiki tekstur pada makanan. Contoh aplikasinya adalah pada pemrosesan
selai, es krim, minuman, saus, dan sirup. Karena pemanfaatannya yang sangat
luas, mudah digunakan, serta harganya yang tidak mahal, karboksimetil selulosa
menjadi salah satu zat yang diminati.
Tabel 1.
Fungsi Carboxymethyl Cellulose
Industri
|
Penggunaan
|
Fungsi
|
Pangan
|
Makanan beku,
|
Menghambat
pertumbuhan kristal es
|
Topping makanan,
Minuman sirup,
|
Pengental
|
|
Makanan yang
dipanggang
|
Pengental,
pemberi rasa
|
|
Makanan hewan
|
Pengikat air,
peliat adonan
|
|
Pengikat air,
pengental, pengekstrusi
|
Na-CMC akan terdispersi dalam air, kemudian
butir-butir Na-CMC yang bersifat hidrofilik akan menyerap air dan terjadi
pembengkakan. Air yang sebelumnya ada di luar granula dan bebas bergerak, tidak
dapat bergerak lagi dengan bebas sehingga keadaan larutan lebih mantap dan
terjadi peningkatan viskositas (Fennema, Karen and Lund,
1996). Hal ini akan menyebabkan partikel-partikel terperangkap dalam sistem
tersebut dan memperlambat proses pengendapan karena adanya pengaruh gaya
gravitasi.
Menurut Fardiaz, dkk. (1987), ada empat sifat
fungsional yang penting dari Na-CMC yaitu untuk pengental, stabilisator,
pembentuk gel dan beberapa hal sebagai pengemulsi. Didalam sistem emulsi
hidrokoloid (Na-CMC) tidak berfungsi sebagai pengemulsi tetapi lebih sebagai senyawa
yang memberikan kestabilan. Penambahan Na-CMC pada sari wortel berfungsi
sebagai bahan pengental, dengan tujuan untuk membentuk sistem dispersi koloid
dan meningkatkan viskositas. Dengan adanya Na-CMC ini maka partikel-partikel
yang tersuspensi akan terperangkap dalam sistem tersebut atau tetap tinggal
ditempatnya dan tidak mengendap oleh pengaruh gaya gravitasi (Potter, 1986).
Mekanisme bahan pengental dari Na-CMC mengikuti
bentuk konformasi extended atau streched Ribbon (tipe
pita). Tipe tersebut terbentuk dari 1,4 –D glukopiranosil yaitu dari rantai
selulosa. Bentuk konformasi pita tersebut karena bergabungnya ikatan geometri
zig-zag monomer dengan jembatan hydrogen dengan 1,4 -Dglukopiranosil lain,
sehingga menyebabkan susunannya menjadi stabil. Na-CMC yang merupakan derivat
dari selulosa memberikan kestabilan pada produk dengan memerangkap air dengan
membentuk jembatan hydrogen dengan molekul Na-CMC yang lain (Belitz and Grosch,
1986). Belizt and Grosch (1986) mengatakan, penggunaan Na-CMC
sebagai derivat dari selulosa antara 0,01%-0,8% akan mempengaruhi produk pangan
seperti jelli buah, sari buah, mayonaise dan lain-lain. Menurut Fennema (1986),
semua zat pengental dan pengental adalah hidrofil dan terdispersi dalam larutan
yang dikenal sebagai hidrokoloid.
B. XANTHAN GUM
Xanthan
Gum merupakan Polisakarida ekstraseluler yang disekresikan oleh mikroorganisme Xanthomonas campestris yang berasal dari
kedelai, jagung atau produk tanaman lainnya. Pembuatan
Xantan Gum melalui proses enzimatik yang kompleks, Xanthomonas
campestris menghasilkan polisakarida pada permukaan dinding selnya
selama siklus hidup normal. Di alam, bakteri ini ditemukan pada daun sayuran Brassica seperti
kol/kubis. Secara komersil, xanthan gum diproduksi dari kultur murni bakteri
secara aerobik, proses fermentasi.
Struktur
kimia gum xanthan mempunyai rantai utama dengan ikatan ß (1,4) D Glukosa, yang menyerupai
struktur selulosa. Rantai cabang terdiri dari mannosa asetat, mannosa dan asam glukoronat
(Chaplin, 2003). Gum xanthan merupakan biopolymer yang hidrofilik yang dapat larut
dalam air dingin maupun air panas, tetapi tidak larut dalam kebanyakan pelarut
organik
Bahan baku yang diperlukan untuk pembuatan gum
secara microbial (gum xanthan) terdiri dari D-glukosa, sukrosa dan
beberapa bentuk karbohidrat yang dapat digunakan sebagai substrat dan tergantung
dari tingkat hasil yang diinginkan. Protein dan nitrogen inorganic adalah
sumber nutrient tambahan yang sangat penting untuk efisiensi produksi gum
xanthan, fosfat dan magnesium juga dibutuhkan serta mineral. (Mc Nelly
dan King dalam Whistler dan Be Miller, 1973).
Xanthan gum mungkin berasal
dari berbagai produk sumber yang sendirinya umum alergen, seperti jagung,
gandum, susu, atau kedelai. Dengan demikian, orang dengan sensitivitas
diketahui atau alergi terhadap produk makanan disarankan untuk menghindari
makanan termasuk permen karet xanthan generik atau pertama menentukan sumber
untuk xanthan gum sebelum mengkonsumsi makanan tersebut. Secara
khusus, reaksi alergi mungkin dipicu pada orang sensitif pada media pertumbuhan,
biasanya jagung, kedelai, atau gandum. Sebagai contoh,
gluten gandum sisa telah terdeteksi pada gusi xantan dibuat dengan menggunakan
gandum. Ini mungkin memicu respons pada orang yang
sangat sensitif terhadap gluten. Beberapa menganggap ini sebagai alergi
terpisah untuk xanthan gum dengan gejala mirip dengan alergi
gluten. Permen xanthan adalah "obat pencuci perut yang sangat efisien",
menurut sebuah penelitian yang diberi makan 15g/day selama 10 hari sampai 18
sukarelawan normal. Beberapa orang bereaksi terhadap jumlah lebih sedikit
permen karet xantan, dengan gejala kembung usus dan diare.
Pada
Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 15 tahun
2013 tentang Batas Maksimum Bahan Tambahan Pangan Pengental. Pada Bab III
tentang “ jenis dan batas maksimum BTP pengental” Pasal 3 , xanthan gum
termasuk jenis BTP pengental yang diizinkan digunakan dalam pangan. Xanthan gum
terletak pada urutan ke 16 Gom Xanthan ( Xanthan gum ( / ) E415
Xanthan Gum Emulsifiers and Stabilizers – other plant gums termasuk zat aditif yang halal menurut MU. Pada
tahun 1969 “Food and Drug Administration” (FDA) mengizinkan untuk menggunakan
gum xanthan dalam pengolahan pangan sebagai “Food Additive”. Sejak saat itu,
gum xanthan diterima dengan dukungan luas oleh industri Karena sifat-sifatnya
yang khas, antara lain kestabilan tekstur, daya tarik estetik dan beberapa
kualitas yang diperlukan dalam pengolahan pangan (Petit dalam Glicksman, 1980)
Fungsi xanthan gum
tergantung dari preparat yang benar dari larutan. Larutan yang buruk akan
menghasilkan fungsi yang tidak optimum. Ini membantu untuk mencegah
pemisahan minyak dengan menstabilkan emulsi,
meskipun bukan merupakan pengemulsi.
Gum xanthan juga membantu memperkuat partikel padat,seperti rempah-rempah.
Penggunaan juga pada makanan dan minuman beku, gum xanthan membantu
menciptakan tekstur lembut di es krim pada umumnya. Sebagai bahan stabilizers, emulsifier, and
thickeners, Xanthan Gum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat dalam bahan
tambahan pangan maupun non pangan, diantaranya :
a. Bahan tambahan pada
salad dressing
b. Bahan pembuatan saus
c. Bahan pembuatan permen
karet
d. Bahan pembuatan pasta
gigi
e. Bahan tambahan pada
kosmetik
f. Bahan tambahan pada es
krim
Salah
satu sifat yang paling luar biasa xanthan gum adalah kemampuannya untuk menghasilkan peningkatan
dalam viskositas cairan dengan menambahkan jumlah yang sangatkecil
gum. Dalam kebanyakan makanan, xanthan digunakan sebesar 0,5%, dan dapat
digunakan dalam konsentrasi yang lebih rendah. Viskositas larutan gum xanthan
menurun dengan tingkat pseudoplasticity yang tinggi. Gum xanthan memiliki sifat pseudoplasticity yang
berarti bahwa suatu produk dapat ditarik atau direnggangkan, akibat dari pencampuran, pengadukan
atau bahkan pengunyahan, sehingga produk akan tampak menipis. Tetapi
setelah gaya tarik dilepaskan, produk akan menebal
kembali (kembali normal). Penggunaan
praktis xanthan berada di salad dressing : gum xanthan membuatnya
cukup tebal saat dikemas di dalam botoluntuk menjaga campurannya
homogen, namun shear forces yang dihasilkan oleh pengocokan dan
penuangan akan menipiskan itu, sehingga dapat dengan mudah dituangkan.
Ketika keluar botol, shear forces akan hilang dan mengental kembali,
sehingga menempel di salad. Dalam makanan, gum xanthan yang paling
sering ditemukan pada salad dressing
DAFTAR
PUSTAKA
Widya,
Lukman Denny. 2010. Bahan Tambahan Pangan Berbahaya dalam Pangan Asal
Hewan. Diakses melalui (higiene-pangan.blogspot.com) pada tanggal 22
Februari 2014 pukul 20:15
Karina,
Anin. 2013. PAM dan Sanitasi Makanan – Emulsifier. Diakses melalui
(aninkarina.blogspot.com) pada tanggal 22 Februari 2014 pukul 20:18
Mustamanah,
Kristina. 2012. Pengemulsi Pemantap dan Pengental Makanan (Emulsifier).
Diakses melalui (Kristina-mustamanah.blogspot.com) pada tanggal 22 Februari
2014 pukul 20:25
Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2013
Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pengemulsi
Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2013
Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Peningkat Volume
Anonim.
2012. CMC (Caboxymethyl Cellulose). Diakses melalui
(pustakapanganku.blogspot.com) pada tanggal 22 Februari 2014 pukul 20:49



.jpg)
Informasi yang disajikan sangat bermanfaat untuk tambahan referensi saya, terima kasih :)
BalasHapusinformasinya jelas dan menambah ilmu untuk khalayak umum :) makasih
BalasHapusTerimakasih atas referensinya yang sangat lengkap. Artikel ini sangat bermanfaat
BalasHapuswah informasinya bagus buat menambah referensi saya
BalasHapusterimakasih kak infonya.... sangat membantu :)
BalasHapustrimakasih infonya sangat membantu, kalo boleh tanya diantara emulsifier2 dan stabilisier yang ada yang paling bagus untuk es krim apa ya mbak? makasih.
BalasHapustrimakasih infonya sangat membantu, kalo boleh tanya diantara emulsifier2 dan stabilisier yang ada yang paling bagus untuk es krim apa ya mbak? makasih.
BalasHapusTerima kasih, informasinya sangat bermanfaat untuk tugas saya
BalasHapussetau saya ada juga kan emulsifier yg terbuat dari lemak babi. kalo bleh tau kodenya apa ya?
BalasHapusHalal tidak ya ??
BalasHapusHalal tidak ya ??
BalasHapusTerimakasih informasi yang saya cari banget....
BalasHapus