TEKANAN DARAH

LAPORAN PRAKTIKUM FLUIDA
TEKANAN DARAH

  
  
Disusun Oleh       :
1.  Vibriansi Astuti            (12030654004)
2.  Asrul Husain                 (12030654016)
3.  Adliyah Thamrini        (12030654027)
4.  Restu Maharani Jalil    (12030654036)
5.  Siti Suryanti                  (12030654043)

PRODI PENDIDIKAN SAINS
FAKULTAS MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2014




ABSTRAK

Kami telah melakukan percobaan tekanan darah pada hari Kamis tanggal 26 April 2014 dengan tujuan megukur tekanan darah, menyelidiki pengaruh aktivitas terhadap tekanan darah, menyelidiki pengaruh berat badan terhadap tekanan darah, menyelidiki pengaruh jenis kelamin terhadap tekanan darah. Metode yang kami gunakan yakni menimbang massa tiga model yang berbeda menggunakan timbangan badan, mengukur denyut jantung dalam keadaan santai selama 1 menit menggunakan stopwatch, mengukur tekanan darah dalam keadaan relaks 2 kali menggunakan Automatic Blood Preassure Monitor, melakukan lari-lari kecil selama 2 menit, mengukur tekanan darah dan denyut jantung setelah aktivitas lari kecil,kemudian naik turun tangga 5 kali, lalu mengukur tekanan darah dan denyut jantung setelah aktivitas naik turun tangga. Dari percobaan yang telah dilakukan bahwa tekanan darah dan denyut jantung akan meningkat selama melakukan aktivitas, semakin tinggi aktivitas yang dilakukan seseorang maka tekanan darah dan denyut jantung akan semakin meningkat. Namun hal tersebut tidak berlaku ketika terdapat gangguan dan ketidakstabilan saat melakukan aktivitas sehingga data yang diperoleh kurang akurat.
 


BAB I
PENDAHULUAN
       A.    Latar Belakang

Tekanan darah merupakan daya yang dihasilkan oleh darah terhadap setiap satuan luas dinding pembuluh. (Guyton,2006 :172). Tekanan darah diambil dengan dua ukuran yakni sistole dan diastole. Sebagai contoh 120/80 mmHg, pada angka atas (120 mmHg)  menunjukkan tekanan sistole, dan angka bawah (80 mmHg) menunjukkan tekanan diastole. Tekanan darah normal pada orang dewasa berkisar antara 100/60 mmHg sampai 140/90 mmHg. Tekanan dalam kehidupan setiap orang berbeda-beda. Tekanan darah dapat dipengaruhi oleh aktifitas fisik, jenis kelamin, massa badan, waktu (pagi dan malam), usia, dll. Tekanan darah disaat melakukan aktifitas akan lebih tinggi dibanding disaat beristirahat. Tekanan darah orang dewasa lebih tinggi dibanding anak-anak serta bayi. Tekanan darah pada pagi hari juga lebih tinggi dibanding malam hari, karena disaat pagi hari saat dimana seseorang melakukan aktifitas dan bergerak, sedangkan malam hari saat dimana seseorang beristirahat.
Perbedaan angka tekanan darah yang berbeda inilah, membuat kami melakukan praktikum tekanan darah dengan berbagai aktifitas.

      B.     Rumusan Masalah
Dari penjelasan diatas, rumusan masalah yang dapat dituliskan yakni :
1.      Bagaimana pengaruh aktivitas terhadap tekanan darah?
2.      Bagaimana pengaruh berat badan terhadap tekanan darah?
3.      Bagaimana pengaruh jenis kelamin terhadap tekanan darah?

      C.    Tujuan
Dari rumusan masalah diatas, tujuan praktikum yakni :
1.      Mengukur tekanan darah.
2.      Menyelidiki pengaruh aktivitas terhadap tekanan darah.
3.      Menyelidiki pengaruh berat badan terhadap tekanan darah.
4.      Menyelidiki pengaruh jenis kelamin terhadap tekanan darah.

      D.    Hipotesis
1.      Semakin tinggi aktivitas seseorang maka tekanan darah akan semakin meningkat.
2.      Semakin besar massa tubuh seseorang maka tekanan darah akan semakin kecil.
3.      Seseorang berjenis kelamin laki-laki memiliki tekanan darah lebih tinggi daripada perempuan.


BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Tekanan Darah
Tekanan darah merujuk kepada tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri darah ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya diukur seperti berikut - 120 /80 mmHg. Nomor atas (120) menunjukkan tekanan ke atas pembuluh arteri akibat denyutan jantung, dan disebut tekanan sistole. Nomor bawah (80) menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat di antara pemompaan, dan disebut tekanan diastole. Saat yang paling baik untuk mengukur tekanan darah adalah saat Anda istirahat dan dalam keadaan duduk atau berbaring.Tekanan darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap satuan luas dinding pembuluh darah  (arteri). Tekanan ini harus adekuat, yaitu cukup tinggi untuk menghasilkan gaya dorong terhadap darah dan tidak boleh terlalu tinggi yang dapat menimbulkan kerja tambahan bagi jantung. Umumnya, dua harga tekanan darah diperoleh dalam pengukuran, yakni tekanan sistole dan diastole.
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari. Bila tekanan darah diketahui lebih tinggi dari biasanya secara berkelanjutan, orang itu dikatakan mengalami masalah darah tinggi. Penderita darah tinggi mesti sekurang-kurangnya mempunyai tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat.
Tekanan sistolik
Tekanan sistolik adalah tekanan darah pada saat terjadi kontraksi otot jantung. Istilah ini secara khusus digunakan untuk merujuk pada tekanan arterial maksimum saat terjadi kontraksi pada lobus ventrikular kiri dari jantung. Rentang waktu terjadinya kontraksi disebut systole. Pada format penulisan angka tekanan darah, umumnya, tekanan sistolik merupakan angka pertama. Sebagai contoh, tekanan darah pada angka 120/80 menunjukkan tekanan sistolik pada nilai 120 mmHg.
Tekanan diastolik
Tekanan diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung tidak sedang berkonstraksi atau beristirahat. Pada kurva denyut jantung, tekanan diastolik adalah tekanan darah yang digambarkan pada rentang di antara grafik denyut jantung.
1. Pengisian ventrikel (ventricular filling)
Adalah fase diastolik, saat ventrikel mengembang dan tekanannya turun dibandingkan dengan atrium. Pada fase ini, ventrikel terisi oleh darah dalam tiga tahapan, yakni pengisian ventrikel secara cepat, diikuti dengan pengisian yang lebih lambat (diastasis), hingga kemudian proses diakhiri dengan sistole atrial. Hasil akhir diperoleh EDV (End Diastolic Volume), yang merupakan volume darah total yang mengisi tiap ventrikel, besarnya kurang lebih 130 mL.
2. Kontraksi isovolumetrik (isovolumetric contraction)
Mulai fase ini, atria repolarisasi, dan berada dalam kondisi diastole selama sisa siklus. Sebaliknya, ventrikel mengalami depolarisasi dan mulai berkontraksi. Tekanan dalam ventrikel meningkat tajam, namun darah masih belum dapat keluar dari jantung dikarenakan tekanan pada aorta (80 mmHg) dan pulmonary trunk (10 mmHg)masih lebih tinggi dibandingkan tekanan ventrikel, serta masih menutupnya keempat katup jantung. Dalam fase ini, volume darah dalam ventrikel adalah tetap, sehingga dinamakan isovolumetrik.
3. Pompa ventrikuler (ventricular ejection)
Pompa darah keluar jantung dimulai ketika tekanan dalam ventrikel melampaui tekanan arterial, sehingga katup semilunaris terbuka. Harga tekanan puncak adalah 120 mmHg pada ventrikel kiri dan 25 mmHg pada ventrikel kanan. Darah yang keluar jantung saat pompa ventrikuler dinamakan Stroke Volume (SV), yang besarnya sekitar 54% dari EDV. Sisa darah yang tertinggal disebut End Systolic Volume (ESV); dengan demikian SV = EDV – ESV.
4. Relaksasi isovolumetrik (isovolumetric relaxation)
Awal dari diastole ventrikuler, yakni saat mulai terjadinya repolarisasi. Fase ini juga disebut sebagai fase isovolumetrik, karena katup AV belum terbuka dan ventrikel belum menerima darah dari atria. Maka yang dimaksud dengan tekanan sistole adalah tekanan puncak yang ditimbulkan di arteri sewaktu darah dipompa ke dalam pembuluh tersebut selama kontraksi ventrikel, sedangkan tekanan diastole adalah tekanan terendah yang terjadi di arteri sewaktu darah mengalir ke pembuluh hilir sewaktu relaksasi ventrikel. Selisih antara tekanan sistole dan diastole, ini yang disebut dengan blood pressure amplitude atau pulse pressure (Stegemann, 1981). Sphygmomanometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah arteri. Alat ini terdiri dari sebuah manset elastis yang berisi kantong karet tiup.
Ketika manset diikatkan  pada lengan, inflasi dari kantong karet memampatkan jaringan bawah manset. Jika kantong karet membengkak untuk tekanan yang melebihi nilai puncak gelombang nadi, arteri terus melemah  dan tidak ada gelombang pulsa yang  bisa teraba di arteri perifer. Jika tekanan dalam spontan secara bertahap dikurangi, suatu titik akan tercapai di mana terdapat gelombang pulsa sedikit melebihi tekanan pada jaringan sekitarnya dan dalam kantong karet. Pada tingkat itu, denyut nadi menjadi teraba dan tekanan yang ditunjukkan pada manometer air raksa adalah ukuran dari nadi puncak atau tekanan sistolik.
Aliran  darah mengalir melalui arteri di bawah manset dengan cepat dan  mempercepat kolom darah di cabang arteri perifer, menghasilkan turbulensi dan suara khas, yang dapat didengar melalui stetoskop. Sebagian tekanan dalam manset dikurangi lebih lanjut. Perbedaan antara tekanan sistolik dan tekanan manset semakin melebar dan arteri terbuka selama beberapa waktu. Secara umum, jumlah darah bergelombang di bawah manset juga sama meningkatnya, dan suara jantung melalui stetoskop cenderung mengeras. Ketika tekanan dalam manset turun di bawah tekanan minimal gelombang nadi, arteri tetap terbuka terus menerus dan suara yang dipancarkan menjadi teredam karena darah terus mengalir dan derajat percepatan darah oleh gelombang pulsa tiba-tiba dikurangi. Pada masih rendah manset tekanan, suara hilang sama sekali sebagai aliran laminar  dan aliran darah menjadi normal kembali (Rushmer, 1970). Adapun bunyi yang didengar saat auskultasi pemeriksaan tekanan darah disebut dengan bunyi korotkoff, yakni bunyi yang ditimbulkan karena turbulensi aliran darah yang ditimbulkan karena oklusi parsial dari arteri brachialis.
Tekanan darah normal orang dewasa biasanya mencapai rata-rata 120/80 (100/60) sampai 140/85 mm Hg, hal ini biasanya tidak terlalu berarti. Namun,jika tekanan bawah atau diastole lebih dari 100, maka biasnaya memerlukan pengobatan. Pada orang dewasa, tekanan darah rendah mencapai 90/60 sampai 110/70 itu berarti orang ini normal dan usia hidup seorang wanita akan menjadi lebih panjang. Dan juga jarang mengalami suatu gangguan jantung.Seseorang dikatakan menderita penyakit tekanan darah tinggi bila nilai tekanan darah sistoliknya diatas 40 mm Hg dan diastoliknya diatas 90 mm Hg. Dalam istilah kedokteran penyakit tekanan darah tinggi ini disebut dengan nama hipertensi. Meskipun batasannya sudah jelas, nilai mutlak dari batasan hipertensi terus mengalami perubahan. Pengalaman klinis membuktikan bahwa tekanan darah normal yang dahulu ditetapkan agak tinggi ternyata masih mendapatkan resiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular). Seseorang yang memiliki tekanan darah rendah yakni 90/80 mmHg, umumnya dapat dilihat gejala dan cirinya secara fisik, ciri umum yang terlihat dari seseorang yang memiliki tekanan darah rendah adalah pandangan kabur, terlihat seperti kebingungan, sering merasa pusing, tubuh menjadi lemah, merasa mual ingin muntah dan ciri lainnya yang dapat dilihat oleh kasat mata. Berikut adalah tabel tekanan darah pada manusia : 
B.     Denyut Nadi
Salah satu indikator kesehatan jantung adalah terjadinya peningkatan denyut nadi pada saat beristirahat. Waktu yang tepat untuk mengecek denyut nadi adalah saat kita bangun pagi dan sebelum  melakukan aktivitas apapun. Pada saat itu kita masih relaks dan tubuh masih terbebas dari zat-zat pengganggu seperti nikotin dan kafein. Kita  dapat mengecek sendiri dengan merasakan denyut nadi kita di bagian tubuhtertentu.

Denyut nadi pada orang yang sedang beristirahat adalah
60 – 80 kali permenit untuk orang dewasa
80 – 100 kali permenit untuk anak-anak
100 – 140 kali  permenit pada bayi
Dengan menggunakan 2 jari yaitu telunjuk dan jari tengah, atau 3 jari, telunjuk, jari tengah dan jari manis jika kita kesulitan menggunakan 2 jari.Temukan titik nadi ( daerah yang denyutannya paling keras ), yaitu nadi karotis di cekungan bagian pinggir leher kira-kira 2 cm di kiri/kanan garis tengah leher ( kira-kira 2 cm disamping jakun pada laki-laki ), nadi radialis di pergelangan tangan di sisi ibu jari.Setelah menemukan denyut nadi, tekan perlahan kemudian hitunglah jumlah denyutannya selama  15 detik, setelah itu kalikan 4,  ini merupakan denyut nadi dalam 1 menit.
Denyut nadi sewaktu istirahat akan makin menurun, kuat dan lebih teratur. Namun denyut nadi bisa lebih cepat jika seseorang dalam keadaan ketakutan, habis berolah raga, atau demam. Umumnya denyut nadi akan meningkat sekitar 20 kali permenit untuk setiap satu derajat celcius penderita demam.
Nadi Max = 80% x (220 – umur )
Misalkan anda sekarang berusia 40 tahun maka
kekuatan maksimal jantung anda adalah 80 % X 180 = 144 kali/menit
Yang perlu diperhatikan adalah, denyut nadi yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan dapat berarti gangguan pada jantung. Segeralah periksakan diri ke instansi kesehatan terdekat.
C.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Denyut Jantung dan Tekanan Darah
Sistem kardiovaskular bekerja menjaga homeostasis tubuh. Berbagai faktor dapat mempengaruhi kerja sistem kardiovaskular ini. Faktor- faktor tersebut dikenali dan dikendalikan oleh tubuh melalui refleks baroreseptor arterial dan mekanisme pengaturan keseimbangan cairan oleh ginjal (perubahan tekanan darah arteri). Faktor- faktor yang dapat mempengaruhi kerja sistem kardiovaskular diantaranya adalah gravitasi, olahraga, usia, jenis kelamin,  aktivitas respirasi, kondisi kesehatan, berat badan, jenis kegiatan.
1.      Gravitasi
Seperti halnya benda yang dijatuhkan dari ketinggian tertentu, aliran darah pun akan semakin cepat mengalir bila posisi seseorang sedang berdiri, artinya tekanan darah tidak hanya berhubungan dengan aliran dan resistansi, tapi juga gravitasi. Berbeda jika posisi seseorang sedang berbaring, dimana gravitasi dapat diabaikan. Lihat gambar berikut yang menjelaskan tentang perbedaan antara kedua posisi tersebut :
  
Pada orang yang berdiri, terjadi perbedaan tekanan kardiovaskular antara jantung dengan bagian tubuh yang tidak selevel dengan jantung. Pada gambar B, semua tekanan intravaskular di kaki meningkat sekitar 90 mmH (arteri dan vena). Hal ini karena gravitasi itu memberikan efek yang sama terhadap tekanan arteri dan vena pada satu level. Meskipun perbedaan tekanan arteri dan vena tidak berbeda dari posisi berbaring, peningkatan tekanan pembuluh pada ekstrimitas bawah ketika berdiri memiliki dua efek langsung yaitu :
1.      Peningkatan tekanan vena menyebabkan peningkatan volume vena periferal sebanyak 500 ml pada dewasa normal.
2.     Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler menyebabkan tingginya laju filtrasi transkapiler.
Aktivasi refleks simpatis juga ikut berperan saat transisi dari posisi berbaring ke posisi berdiri. Gambar C menunjukkan bagaimana vasokonstriktor dari aktivasi simpatis hanya efektif dalam memperbaiki efek dari gravitasi pada ekstrimitas bawah. Konstriksi arteriol dapat menyebabkan sedikit penurunan tekanan pada kapiler jika dibandingkan pada gambar B.
Pada kenyataannya refleks normal kardiovaskular tidak dapat mempertahankan posisi berdiri tanpa adanya peran pompa otot rangka. Seseorang yang tetap bertahan dalam posisi berdiri tanpa kontraksi yang intermiten dari otot rangka kaki, maka orang tersebut akan kehilangan kesadaran  dalam 10-20 menit karena terjadi penurunan aliran  darah ke otak yang merupakan akibat dari penurunan volume darah pusat, stroke volume, curah jantung dan tekanan arteri.
Efektivitas dari pompa otot rangka dalam mengarusbalikkan darah vena yang berkumpul dan formasi edema pada ektrimitas bawah selama berdiri dapat dilihat pada gambar D. Segera setelah kontraksi otot rangka, baik vena dan pembuluh limfa relatif kosong karena sistem katup satu arah pembuluh-pembuluh tersebut dapat mencegah aliran balik cairan yang telah terdorong .
Hal yang terpenting adalah berat dari cairan vena dan limfa akan ditahan oleh katup one-way yang tertutup. Hal ini mengakibatkan tekanan vena lebih rendah secara drastis segera setelah kontraksi otot rangka dan kembali meningkat secara bertahap ketika vena terisi kembali dengan darah dari kapiler. Jadi, tekanan kapiler dan laju filtrasi transkapiler secara drastis juga turun setelah kontraksi otot rangka. Kontraksi otot rangka yang periodik dapat menjaga nilai tekanan vena. Berikut adalah refleks penyesuaian  kardiovaskular terhadap posisi berdiri :  
Akibat dari penurunan input baroreseptor ke pusat kardiovaskular adalah refleks untuk meningkatkan tekanan darah dengan menurunkan aktivitas parasimpatis jantung dan peningkatan aktivitas simpatis. Denyut jantung dan kontraktilitas kardia juga meningkat, ketika arteri dan vena mengalami konstriksi di kebanyakan organ sistemik.
Denyut jantung dan resistansi total perifer lebih tinggi ketika seseorang berdiri dibanding berbaring. Sebaliknya stroke volume dan curah jantung menurun dibawah nilai ketika posisi berbaring selama berdiri. Tekanan rata-rata arteri seringkali meningkat ketika seseorang berubah posisi dari berbaring ke berdiri.
Jika seseorang tetap berdiri, pompa venanya tidak bekerja, maka terjadi peningkatan tekanan vena dengan dipengaruhi efek gravitasi 90 mmHg dalam waktu 30 detik. Tekanan pada kapiler juga meningkat, sehingga menyebabkan filtrasi cairan keluar dari sistem sirkulasi ke ruang jaringan, sehingga menyebabkan kaki membengkak dan volume darah turun. Selain itu, 10-20% volume darah dapat menghilang dari sistem sirkulasi dalam 15-30 menit pada keadaan berdiri.
2.   Olahraga
Olahraga fisik merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi sistem kardiovaskuler. Perubahan tersebut juga dipengaruhi tipe olahraga fisik (apakah dominan olahraga dinamik-ritmik-isotonik atau statik-isometrik), intensitas dan durasi olahraga, umur individu, dan tingkat kebugaran individu. Keadaan sistem kardiovaskular yang berubahan yang terjadi pada remaja normal yang tidak terlatih dalam merespon olahraga dinamik. Perhatikan bahwa denyut jantung dan curah jantung sangat meningkat selama olahraga dan tekanan arteri rata-rata serta tekanan darah juga meningkat secara signifikan. Perubahan ini memperlihatkan kebutuhan metabolik otot rangka dengan meningkatkan aliran darah ke otot rangka.Sebagai tambahan, otot yang berkontraksi dapat mengkompresi pembuluh darah jika kontraksinya melebihi 10% tegangan maksimum. Jika tegangan lebih dari 70%, maka aliran darah akan terhenti sama sekali.Namun diantara kontraksi, aliran darah akan sangat meningkat sehingga aliran darah per satuan waktu di suatu otot yang berkontraksi secara ritmik meningkat hingga 30 kali lipat.
Pompa otot rangka juga merupakan faktor penting dalam memicu kembalinya arus balik vena selama olahraga dinamik, sehingga dapat mencegah terjadinya penurunan tekanan vena yang drastis. Faktor lain yang memicu arus balik vena adalah pompa respirasi. Pergerakan respirasi yang meningkat selama olahraga meningkatkan efektivitas pompa respirasi sehingga meningkatkan arus balik vena dan pengisian jantung.
Respon kardiovaskular sistemik terhadap olahraga bergantung pada jenis kontraksi yang dominan di otot, yakni isometrik atau isotonik. Pada kontraksi otot isometrik, frekuensi denyut jantung meningkat. Selain itu setelah beberapa detik kontraksi dimulai, olahraga isometrik ini akan menyebabkan tekanan darah sistolik dan diastolik meningkat tajam, namun curah jantung tidak banyak berubah, serta aliran darah berkurang akibat kompresi pembuluh darah.
Pada olahraga isotonik, juga terjadi peningkatan frekuensi denyut jantung, namun perbedaanya terjadi peningkatan yang mencolok pada curah jantung, yaitu dapat terjadi peningkatan curah jantung 35 L/menit. akibatnya tekanan darah sistolik hanya meningkat sedang, sementara diastolik biasanya tidak berubah atau menurun. Pada olahraga isometrik, otot dikontraksikan secara tonik dan dapat meningkatkan resistensi perifer total dan peningkatan aktivitas simpatis otot. Sedangkan pada isotonik justru sebaliknya, terjadi penurunan resistansi perifer.
3.        Umur
Variabel usia juga mempengaruhi sistem kardiovaskular. Neonatus normal memiliki denyut jantung istirahat (resting heart rate) yang tinggi (rata- rata 140/menit) dan tekanan darah arteri yang rendah (rata- rata 60/35 mmHg). Perubahan yang cepat terjadi hingga tahun pertama, yaitu denyut jantung 120/menit dan tekanan darah arteri 100/65 mmHg. Perubahan juga terjadi pada pembuluh darah, diantaranya berkurangnya densitas kapiler di beberapa jaringan dan meningkatnya total resisten pembuluh darah perifer. Perubahan- perubahan ini menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dan tekanan darah arteri rata- rata. Perubahan tekanan darah yang diinduksi oleh baroreseptor arterial akan berkurang fungsinya seiring bertambahnya usia. Hal ini dikarenakan berkurangnya akitivitas aferen dari baroreseptor arterial karena kekakuan arteri (arterial rigidity) yang meningkat. Selain itu, jumlah norepinefrin yang bekerja di saraf simpatis juga akan berkurang semakin bertambahnya umur.
4.    Jenis kelamin
Pengaruh perbedaan jenis kelamin terhadap sistem kardiovaskular hanya sedikit didokumentasikan. Perempuan yang premenopause memiliki masa ventrikel kiri yang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki pada umur yang sama, yang berarti, merefleksikan cardiac afterload yang lebih rendah. Hal ini terjadi akibat tekanan darah arterial yang rendah, aortic compliance lebih besar, dan kemampuan untuk menginduksi vasodilator lebih tinggi. Perbedaan ini diperkirakan dihubungkan dengan efek protekif dari estrogen dan dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular pada perempuan premenopause. Setelah menopause, perbedaan tersebut tidak berarti lagi, karena kenyataannya pada perempuan tua dengan penyakit jantung iskemi sering menunjukkan prognosis yang lebih buruk dibandingkan laki-laki. Terdapat juga perbedaan yang dihubungkan dengan jenis kelamin dalam hal elektrik kardia. Yaitu pada perempuan memiliki denyut jantung intrinsik yang lebih rendah dan interval QT yang lebih panjang dibanding laki-laki. Perempuan seperti itu lebih memiliki risiko yang besar berkembang menjadi sindrom QT panjang dan torsades de pointes. Selain itu, perempuan juga memiliki risiko dua kali lebih besar dibanding laki-laki dalam atrioventrikular nodal re-entry tachycardias. Akan tetapi, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa dalam proses fisiologik kardiovaskular yang paling dasar, tidak terlalu dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin. Jadi, individu yang berbeda memiliki respon dasar fisiologis yang sama. 
5.   Aktivitas respirasi
Aktivitas fisik yang berhubungan dengan inspirasi dan ekspirasi mempunyai efek yang besar pada aliran darah balik dan curah jantung (cardiac output). Selama inspirasi normal, tekanan intratoraks berkisar 7 mmHg, dimana diafragma berkontraksi dan rongga dada mengembang. Tekanan ini meningkat dengan jumlah yang sama selama ekspirasi. Selama pernapasan berlangsung, tidak hanya pergerakan udara keluar masuk paru yang terjadi, namun tekanan yang dihasilkan juga ditransmisikan ke dinding- dinding vena besar di rongga dada dan mempengaruhi aliran balik vena dari perifer ke jantung. Fenomena ini disebut juga pompa respirasi (respiratory pump). Selama inspirasi, tekanan intratoraks berkurang sehingga tekanan di vena sentral juga berkurang. Hal ini menyebabkan aliran balik vena (vena return) dan volume vena sentral meningkat sehingga pengisian jantung kanan meningkat. Sesuai hukum Starling, keadaan ini juga meningkatkan stroke volume dan cardiac output di jantung kiri. Hal ini akan meningkatkan tekanan darah arteri dan merangsang baroreseptor arterial. Proses inspirasi yang mengurangi tekanan intratoraks juga merangsang baroreseptor di pembuluh darah dan dinding jantung. Rangsangan yang diterima oleh kedua reseptor akan mengaktivasi medullary cardiovascular centers untuk menurunkan tekanan darah yaitu dengan meningkatkan kerja parasimpatis dan menurunkan kerja simpatis.

  

BAB III
METODE PERCOBAAN
      
 
      A. Alat
a.       Automatic Blood Preassure Monitor        1 buah
b.      Stopwatch                                                 2 buah
c.       Timbangan badan                                      1 buah

     B.  Identifikasi Variabel
a.       Variabel
                                i.      Variabel manipulasi : model (jenis kelamin, massa badan)
                              ii.      Variabel respon  :  tekanan darah
                            iii.      Variabel kontrol : alat yang digunakan (timbangan badan, Automatic Blood Preassure Monitor, Stopwatch) banyaknya anak tangga, waktu.
b.      Definisi Operasional Variabel
                                i.            Variabel manipulasi     : pada saat melakukan percobaan yang dimanipulasi adalah model dengan perbedaan jenis kelamin dan berat badan.
                              ii.            Variabel respon           :  dengan memanipulasi model dari jenis kelamin dan massa badan ,maka akan diperoleh nilai tekanan darah
                            iii.            Variabel kontrol          : pada saat melakukan percobaan menggunakan alat yang sama yakni ; timbangan badan, Automatic Blood Preassure Monitor, Stopwatch, banyaknya tangga dan waktu.
C. Langkah kerja
Langkah awal yang dilakukan yakni dengan memilih tiga orang teman untuk menjadi model. Mengukur massa badan dengan menggunakan timbangan badan. Mengukur denyut jantung model dalam keadaan duduk dan santai. Lalu, menghitung denyut jantung model selama 1 menit dengan menggunakan stopwatch. Mengulangi hal sama sebanyak dua kali , lalu dit catat dan di rata-rata. Kemudian, mengukur darah dengan menggunakan Automatic Blood Preassure Monitor dalam keadaan normal(relaks). Mencatat besarnya tekanan darah yang ditunjukkan pada jarum Automatic Blood Preassure Monitor. Selanjutnya,model melakukan lari-lari kecil ditempat selama 2 menit, kemudian mengukur denyut jantung dan tekanan darah. Mencatat tekanan darah yang ditunjukkan pada jarum Automatic Blood Preassure Monitor. Selanjutnya, model melakukan naik turun tangga sebanyak 5x, kemudian mengukur denyut jantung dan tekanan darah. Mencatat tekanan darah dan denyut jantung yang ditunjukkan pada jarum Automatic Blood Preassure Monitor. Mengulangi hal yang sama dengan model yang  berbeda.


BAB IV
DATA DAN ANALISIS
     A.    Data
No
Model
Jenis Aktivitas
Massa Model (kg)
Tekanan Darah
Sistol (mmHg)
Diastol (mmHg)
Pulse (denyut jantung/menit)
1
1
Perempuan
Normal (relaks)
50
104
77
75
Lari-lari kecil di tempat (2 menit)
112
80
106
Naik turun tangga (3 menit)
126
88
130
2
2
Laki-laki
Normal (relaks)
75
121
81
62
Lari-lari kecil di tempat (2 menit)
120
79
90
Naik turun tangga (3 menit)
151
75
94
3
3
Perempuan
Normal (relaks)
65
125
83
60
Lari-lari kecil di tempat (2 menit)
145
80
70
Naik turun tangga (3 menit)
167
84
80























  
      B.     Analisis

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dengan menggunakan 3 model (1 model laki-laki dan 2 model perempuan) dengan berat badan yang berbeda-beda, didapatkan tekanan darah yang berbeda pada masing-masing aktivitasnya. Tekanan darah dihitung dalam keadaan normal (relaks), lari-lari di tempat selama 2 menit dan naik turun tangga dengan 11 anak tangga dengan waktu sekitar 3 menit.
Pada model pertama dengan jenis kelamin perempuan dan berat badan 50 kg, dalam keadaan normal sistol, diastole, dan pulse berturut-turut adalah 104 mmHg, 77mmHg, dan 75. Pada saat model melakukan aktivitas lari-lari kecil selama 2 menit, sistol, diastole, dan pulse berturut-turut 112 mmHg, 80 mmHg, dan 106. Pada aktivitas ketiga (model melakukan aktivitas naik turun tangga sebanyak 11 anak tangga atau sekitar 3 menit), nilai sistol, diastole, dan pulse berturut-turut 126 mmHg, 88 mmHg, dan 130.
Pada model kedua dengan jenis kelamin laki-laki dan berat badan 75 kg, dalam keadaan normal sistol, diastole, dan pulse berturut-turut adalah 121 mmHg, 81mmHg, dan 62. Pada saat model melakukan aktivitas lari-lari kecil selama 2 menit, sistol, diastole, dan pulse berturut-turut 120 mmHg, 79 mmHg, dan 90. Pada aktivitas ketiga (model melakukan aktivitas naik turun tangga sebanyak 11 anak tangga atau sekitar 3 menit), nilai sistol, diastole, dan pulse berturut-turut 151 mmHg, 75 mmHg, dan 94.
Pada model ketiga dengan jenis kelamin perempuan dan berat badan 65 kg, dalam keadaan normal sistol, diastole, dan pulse berturut-turut adalah 125 mmHg, 83mmHg, dan 60. Pada saat model melakukan aktivitas lari-lari kecil selama 2 menit, sistol, diastole, dan pulse berturut-turut 145 mmHg, 80 mmHg, dan 70. Pada aktivitas ketiga (model melakukan aktivitas naik turun tangga sebanyak 11 anak tangga atau sekitar 3 menit), nilai sistol, diastole, dan pulse berturut-turut 167 mmHg, 84 mmHg, dan 80.

                                                                                BAB V
DISKUSI DAN PEMBAHASAN

A.    Diskusi
Faktor apa saja yang memengaruhi denyut jantung dan tekanan darah seseorang?
Jawaban :
Sistem kardiovaskular bekerja menjaga homeostasis tubuh. Berbagai faktor dapat mempengaruhi kerja sistem kardiovaskular ini. Faktor- faktor tersebut dikenali dan dikendalikan oleh tubuh melalui refleks baroreseptor arterial dan mekanisme pengaturan keseimbangan cairan oleh ginjal (perubahan tekanan darah arteri). Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah dan denyut jantung antara lain; aktivitas, jenis kelamin, dan ukuran tubuh. Seseorang bertubuh yang kecil memiliki kecepatan denyut jantung lebih besar dibandingkan dengan seseorang yang bertubuh lebih besar. Kecepatan denyut jantung akan meningkat karena pengaruh suhu eksternal yang tinggi. Hal ini terjadi pada antara model perempuan 1 dengan  model 2 dan 3.  Denyut jantung Siti Suryanti yang memiliki massa 50 Kg lebih besar dari pada denyut jantung Asrul Husain dan Restu Maharani  yang memiliki massa 75 Kg dan 65 Kg. Selain itu, faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah dan denyut jantung, antara lain:
1.      Umur : tekanan darah akan meningkat dengan bertambahnya umur.
2.      Waktu pengukuran : bila pagi hari tekanan darah agak menurun sedangkan bila siang hari dan sore hari sedikit lebih meningkat.
3.      Latihan (exercise) dan aktivitas : tekanan darah meningkat selama exercise dan aktivitas.
4.      Stress : ansietas, takut, nyeri dan stress emosi mengkibatkan stimulasi simpatik yang meningkatkan frekuensi darah, curah jantung dan tahanan vascular perifer. Efek-efek stimulasi simpatik meningkatkan tekanan darah.
5.      Ras : frekuensi hipertensi pada orang afrika amerika lebih tinggi dariapada orang eropa amerika. Kecendrungan populasi ini terhadap hpertensi di yakini berhubungan dengan genetic dan lingkungan.
6.      Medikasi : banyak medikasi yang secara langsung maupun tidak langsung, mempengaruhi tekanan arah. Selam pengkajian tekanan darah, perawat menanyakan apakah klien menerima medikasi anti hipertensi yang menurunkan tekanan darah.
7.      Variasi diurnal : tekanan darah biasanya rendah pada pagi-pagi sekali, secara brangsur-angsur naik pagi menjelang siang dan sore, dan puncaknya pada senja hari atau malam. Tidak ada orang yang pola dan derajat variasinya sama.
8.      Jenis kelamin : secara klinis tidak ada perbedaan yang signifikan dari tekanan darah anak laki-laki atau perempuan. Setelah pubertas, pria cenderung memiliki bacaan tekanan darah yang lebih tinggi, setelah menopause wanita cenderung memiliki teknan darah yang lebih tinggi daripada pria pada usia tersebut.
9.      Emosi dan nyeri : emosi tinggi dan rasa nyeri yang tinggi dapat meningkatkan tekanan darah, juga bila kandung kemih penuh atau pasien kedinginan, merokok dan posisi kaki silang dapat meningkatkan tekanan darah.
10.  Miscellaneus faktor : bila dalam posisi berbaring tekanan darah lebih rendah dari pada pasien duduk.

     B.     Pembahasan
Pada model pertama Siti Suryanti berjenis kelamin perempuan dengan berat badan 50 kg tekanan darah sistol dari keadaan relaks, lari kecil-kecil, dan naik turun tangga mengalami peningkatan. Pada diastol juga mengalami peningkatan. Dari denyut jantung juga mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatan denyut nadi yang signifikan ini merupakan hasil dari respon kardiovaskular terhadap adanya kontraksi otot. Kerja ini juga berfungsi untuk mengangkut O2 yang dibutuhkan oleh otot untuk melakukan kontraksi selama latihan.
Pada model kedua Asrul Husain berjenis kelamin laki-laki dengan berat badan 75 kg tekanan darah sistol dari keadaan relaks,  lari kecil-kecil dan naik turun tangga mengalami peningkatan dan  penurunan  yakni dari 121 mmHg ke 120 mmHg kemudian saat naik turun tangga menjadi 151 mmHg.  Pada diastol dari keadaan relaks ke lari-lari kecil mengalami penurunan yakni dari 81 mmHg ke 79 mmHg kemudian saat naik turun tangga pun juga menurun yakni mencapai 75 mmHg dibanding dengan keadaan relaks. Kedua hal ini kemungkinan terjadi dikarenakan pada model kedua terjadi gangguan tekanan darah dan secara umum laki-laki lebih terbiasa melakukan aktivitas yang melibatkan fisik atau dapat juga disebabkan karena model kedua pada saat setelah melakukan lari-lari kecil dan naik turun tangga pengukuran tekanan darahnya saat sudah dalam keadaan relaks kembali, sehingga tekanan darah diastol tidak mengalami peningkatan antara keadaan relaks dan keadaan lari-lari kecil dan naik turun tangga. Dari denyut jantung mengalami peningkatan yang signifikan dari keadaan relaks ke lari-lari kecil yakni 62 mmHg ke 90mmHg. Kemudian saat naik turun tangga menjadi 92 mmHg. Hal ini  wajar terjadi dikarenakan aktifitas yang dilakukan model semakin lama semakin membutuhkan energi yang besar.
Pada model ketiga Restu Maharani Jalil yang berjenis kelamin perempuan dengan berat badan sebesar 65 kg  tekanan darah sistol dari keadaan relaks, lari kecil-kecil, dan naik turun tangga mengalami peningkatan. Namun  pada diastol dari keadaan relaks ke lari-lari kecil mengalami penurunan yakni dari 83 mmHg ke 80 mmHg kemudian saat naik turun tangga mengalami kenaikan kembali mencapai 84 mmHg dibanding dengan keadaan relaks. Sama dengan model yang kedua yakni hal ini mungkin saja dapat terjadi karena pada model ketiga terjadi gangguan tekanan darah atau dapat juga disebabkan karena model kedua pada saat setelah melakukan lari-lari kecil pengukuran tekanan darahnya saat sudah dalam keadaan relaks kembali, sehingga tekanan darah diastol tidak mengalami peningkatan antara keadaan relaks dan keadaan lari-lari kecil. Serta denyut nadi model ketiga ini mengalami peningkatan dari keadaan relaks, lari-lari kecil dan naik turun tangga. Hal ini  wajar terjadi dikarenakan aktifitas yang dilakukan model semakin lama semakin membutuhkan energi yang besar.
Dari percobaan yang telah dilakukan diatas, hal ini membuktikan bahwa tekanan darah dan denyut jantung setiap orang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor yakni aktivitas, jenis kelamin, dan ukuran tubuh. Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa tekanan darah dan denyut jantung ketiga model akan meningkat selama melakukan aktivitas, semakin tinggi aktivitas yang dilakukan seseorang maka tekanan darah dan denyut jantung akan semakin meningkat. Sedangkan seseorang berjenis kelamin laki-laki (model 2) memiliki denyut jantung lebih tinggi dari pada model 1 (perempuan) dan lebih rendah dari model 3 (perempuan) dan tekanan darah lebih besar dari pada seseorang berjenis kelamin perempuan, hal ini kemungkinan terjadi dikarenakan pada model kedua terjadi gangguan tekanan darah dan secara umum laki-laki lebih terbiasa melakukan aktivitas yang melibatkan fisik atau dapat juga disebabkan karena model kedua pada saat setelah melakukan lari-lari kecil dan naik turun tangga pengukuran tekanan darahnya saat sudah dalam keadaan relaks kembali, sehingga tekanan darah diastol tidak mengalami peningkatan antara keadaan relaks dan keadaan lari-lari kecil dan naik turun tangga. Seseorang bertubuh yang kecil memiliki kecepatan denyut jantung lebih besar dibandingkan dengan seseorang yang bertubuh lebih besar. Hal ini tebukti pada saat pengamatan bahwa model pertama yang memiliki berat badan 50 kg memiliki kecepatan denyut jantung lebih besar dibandingkan dengan model yang kedua dan ketiga.


                BAB VI
                KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tekanan darah dan denyut jantung setiap orang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor yakni aktivitas, jenis kelamin, dan ukuran tubuh. Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa tekanan darah dan denyut jantung akan meningkat selama melakukan aktivitas, semakin tinggi aktivitas yang dilakukan seseorang maka tekanan darah dan denyut jantung akan semakin meningkat. Seseorang berjenis kelamin laki-laki memiliki denyut jantung dan tekanan darah lebih besar dari pada seseorang berjenis kelamin perempuan, namun dalam proses fisiologik kardiovaskular yang paling dasar, tekanan darah dan denyut jantung tidak terlalu dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin, hal ini sama seperti pada percobaan kami yakni, model 2 yang berjenis kelamin laki-laki memiliki kecepatan denyut jantung yang lebih rendah pada model ketiga hal ini mungkin terjadi karena terjadi gangguan tekanan darah dan secara umum laki-laki lebih terbiasa melakukan aktivitas yang melibatkan fisik atau dapat juga disebabkan karena model kedua pada saat setelah melakukan lari-lari kecil dan naik turun tangga pengukuran tekanan darahnya saat sudah dalam keadaan relaks kembali.  Seseorang bertubuh yang kecil memiliki kecepatan denyut jantung lebih besar dibandingkan dengan seseorang yang bertubuh lebih besar.



DAFTAR PUSTAKA

TIM. 2014. Panduan praktikum fluida . Surabaya : Program Studi Pendidikan Sains.
http://dyapoenya.blogspot.com/p/tekanan-darah-dan-denyut-nadi.htmldiakses pada tanggal 27 April 2014 pukul 23.30







Komentar

  1. Infonya sangat membantu, bisa jadi tambahan referensi :)

    BalasHapus
  2. informasinya sangat lengkap,,,
    izin co-paste ya,referensi,,,

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

METODE PEMISAHAN CAMPURAN

BAGAIMANA PROSES TERBENTUKNYA UBAN ?